My Kampung Pura Bojonggede, Bogor

dedicated to our village

Nyabu Jadi Gaya Hidup bagi Sebagian Pilot

Foto:Repro Warta Kota/Agus RijantoMencengangkan! Narkoba di kalangan sebagian pilot ternyata sudah menjadi gaya hidup. Salah seorang pramugari bahkan memperkirakan sekitar 6 dari 10 pilot menjadi penikmat barang haram itu. Tentu saja masih banyak pilot yang bersih dari narkoba.

Direktur Tindak Kejar Narkotika Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN), Benny Mamoto, mengatakan bahwa ia mendapat informasi dari beberapa pilot, kebiasaan menikmati barang haram itu akan sulit dihilangkan karena hal itu sudah menjadi gaya hidup di kalangan pilot.

“Saya bertanya kepada seorang pilot tentang bagaimana cara mensterilkan narkoba di kalangan pilot, dan ia menjawab, ‘Wah sulit Pak Benny menghentikan itu, wong sudah menjadi gaya hidup’,” katanya dalam jumpa pers di Gedung BNN, Jalan Haryono MT, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (8/2), seperti dilansir Wartakotalive.com.

Menurut Benny, di kalangan pilot tertentu sudah beredar image bahwa narkoba jenis sabu-sabu bisa membuat kuat. Padahal, sebenarnya pengaruh narkoba itu malah merusak sel otak secara permanen. “Ini menunjukkan bahwa di kalangan pilot masih ada yang tidak paham akan bahaya narkoba. Maka dari itu kami bekerja sama dengan maskapai Lion Air dan lainnya untuk memberikan penyuluhan bahaya narkoba,” ujarnya.

Benny juga mengaku menerima banyak pesan pendek (SMS) atau e-mail pascapenangkapan dua pilot Lion Air yang tersangkut narkoba. Isi SMS dan e-mail tersebut antara lain menginformasikan masih ada sejumlah pilot serta kru lain yang terlibat kasus narkoba.

“SMS di HP saya penuh. Informasi juga masuk lewat e-mail saya, lewat telepon, serta lewat fax,” katanya.

Benny menyatakan pihaknya pasti menindaklanjuti setiap informasi yang masuk. Tapi pihaknya juga tetap berhati-hati dengan informasi itu. “Jangan-jangan itu berasal dari pihak yang sakit hati kepada maskapai, lalu memanfaatkan momen ini,” ujarnya.

Sementara itu, seorang pramugari dari sebuah maskapai penerbangan swasta yang meminta tidak disebukan namanya mengatakan, pilot maupun kru pesawat mengonsumsi narkoba bukanlah berita baru.

Menurut pramugari yang terbilang masih yunior ini, narkoba di kalangan pilot sudah menjadi gaya hidup. “Pilot yang suka narkoba kelihatan, badannya terlihat segar tetapi nada bicaranya tidak jelas, agak pelo,” katanya. Dari para seniornya dia bahkan mendengar bahwa rata-rata 6 dari 10 pilot pernah atau sering menikmati barang haram tersebut.

Sanksi

Benny Mamoto meminta kepada para pilot yang masih menggunakan narkoba untuk segera melapor agar direhabilitasi dan disembuhkan dari ketergantungan narkotika. Jika tidak, nantinya akan terjerat hukum seperti beberapa pilot Lion Air yang kedapatan mengonsumsi narkoba.

“Kalau melapor maka akan kami rehabilitasi dan terhindar dari jerat hukum,” kata Benny.

Imbauan Benny ini juga ditujukan kepada seluruh masyarakat, dan para pengguna narkoba yang ingin bebas dan memiliki niat bersih dari narkoba.

Sementara itu Menteri Perhu­bungan EE Mangindaan mengatakan, Kemenhub sudah menyurati pihak maskapai penerbangan agar mencabut lisensi pilot yang ketahuan memakai narkoba. “Kami kirim surat ke airlines, kami sarankan memang lisensinya dicabut. Kemarin kami juga adakan tes dadakan, tes urine untuk beberapa pilot. Sebagian besar masih bersih, ada juga yang tidak,” kata Mangindaan di Kantor Presiden, Rabu (8/2).

Menurut Menhub, sudah ada kerja sama antara BNN dan Kemenhub yang dituangkan dalam peraturan bersama. Tujuannya, agar tetap terjaga keselamatan transportasi bukan hanya udara, tapi juga laut dan darat. “Ada saran dari BNN agar medical check up jangan per 6 bulan lagi, mungkin ada incognito yang bergerak,” katanya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Indonesia (INACA) Tengku Burhanuddin mengatakan, asosiasi mendukung Kemenhub mencabut lisensi terbang milik pilot yang kedapatan mengonsumsi narkoba.

Burhanuddin menambahkan, sanksi itu tepat diberikan kepada oknum pelaku penyalahgunaan narkoba. Ia berharap sanksi itu dapat memberi efek jera pada pilot dan pengguna lainnya.

Ia juga merekomendasikan pemerintah melengkapi alat tes kesehatan dengan menggunakan sampel rambut pilot dan kru pesawat. Alat itu, katanya, dapat mendeteksi kandungan narkoba di tubuh seseorang setelah dua bulan pemakaian.

Kasus penangkapan kru pesawat terbang menghangat setelah Saiful Salam ditangkap di sebuah hotel di Surabaya pada 4 Februari lalu. Penangkapan pilot Lion Air berusia 44 tahun ini dilakukan setelah BNN menciduk pilot Hanum Adhyaksa di sebuah tempat karaoke di Makassar pada 9 Januari. Hanum mengaku pernah nyabu bersama Saiful. Berdasarkan keterangan inilah Saiful diintai dan ditangkap dengan barang bukti narkoba.

Bahaya mengintai

Psikiater senior Prof Dr dr Dadang Hawari mengatakan, pilot yang terpengaruh narkoba akan membahayakan penumpangnya jika memaksakan diri menerbangkan pesawat.

Seorang pemakai sabu akan mengalami disorientasi, di mana jarak yang sebenarnya masih jauh akan terlihat seperti sudah dekat. Potensi pesawat akan menukik ke laut sangat besar, karena bisa saja pilot yang terpengaruh narkoba melihat laut seperti landasan.

Dadang, yang selama ini sudah banyak menangani pasien dari kalangan pengguna narkoba di sejumlah rumah sakit besar di Jakarta, mengatakan seorang pilot yang terpengaruh oleh sabu tidak begitu sadar siapa sesungguhnya dirinya.

Pengguna, kata Dadang, akan mengalami halusinasi penglihatan, mengalami perasaan yang berlebihan. “Dirinya akan merasa hebat, merasa super, dan semua dianggap enteng,” ujarnya.

Tetap ramai

Sementara itu, pasca terjadinya penangkapan pilot yang kepergok sedang nyabu ternyata tidak memengaruhi jumlah penumpang. Maskapai Lion Air tetap menjadi pilihan banyak orang yang hendak menggunakan pesawat terbang.

Menurut Wita, pegawai biro perjalanan Swell Travel, penjualan tiket pesawat Lion Air tetap ramai dan tidak ada penurunan. Banyaknya rute domestik yang dilayani oleh Lion Air membuat maskapai ini tetap ramai. “Bahkan tiket promo bulan Maret dan April habis, tidak ada penurunan penjualan, terutama ke Kalimantan Timur dan Palembang,” ujarnya, Rabu (8/2).

Hal senada diungkapkan Maulana dari Kasamas Travel. Menurut dia, penjualan tiket Lion Air tidak terpengaruh pemberitaan mengenai pilot yang menggunakan sabu. “Tetap ramai kok, sehari bisa 10 tiket Lion terjual.Apalagi untuk akhir pekan, tetap banyak permintaan terutama ke Medan, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. Bahkan ke Palembang saja delapan kali sehari, itu ramai juga,” ujar pengusaha agen perjalanan di Kelapagading, Jakarta Utara, ini.

Lisa dari Bromo Travel, di Surabaya, Jawa Timur, dan Dadit, dari Shantika Travel, Jakarta, mengungkapkan bahwa penurunan terjadi, tetapi tidak signifikan. Sepanjang tiga hari ini, pemesanan tiket rute Jakarta ke Surabaya, Medan, Bali, dan Mataram turunnya tidak lebih dari 15 tiket per harinya.

Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait, membenarkan bahwa meski pilotnya tertangkap mengonsumsi narkoba, tidak serta-merta membuat jumlah penumpang Lion Air turun. “Tidak ada penurunan. Saat ini load factor tetap stabil, yaitu 80-85 persen dalam satu penerbangan, dan ini normal karena sekarang low season,” katanya.

Menurut Edward, kasus tertangkapnya pilot Lion Air yang mengonsumsi narkoba memang memiliki dampak. Ia berjanji kasus pilot nyabu itu tidak terulang. Lion Air akan h memperketat tes kesehatan dan narkoba terhadap pilot dan kru lainnya.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: